Tampilkan postingan dengan label SASTRA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SASTRA. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Maret 2015

SOAL MEMBUAT CERPEN

I. Pilihlah salah satu dari kutipan cerpen dibawah ini untuk dilanjutkan ceritanya berdasarkan karanganmu sendiri di kertas folio, kamu dapat menambah tokoh dan membuat ending yang kamu inginkan( bahagia, sedih, atau menggantung), kamu juga diminta memberi judul yang tepat untuk karanganmu, usahakan jangan membuat lanjutan cerita yang sama dengan temanmu.


CERPEN 1
Pagi ini matahari tersenyum padaku, ia menyapaku dengan angin dan embun yang dingin, betapa sejuknya cuaca hari ini, aku pun bergegas bangun memaksa membuka kelopak mata yang masih lengket, hari ini banyak kejutan yang menantiku tepat di umurku yang menunjuk pada angka 14. Aku tak sabar menengok meja makan yang penuh kue buatan mama, aku juga tak sabar membuka kado dari papa, juga tak sabar mendengar ucapan dari teman-temanku disekolah, setelah mandi kutengok cermin huh.. wajahku terlihat sembab seperti habis menangis lama, tapi tak kupedulikan wajah itu aku masih cantik pikirku dalam hati, setelah benar-benar siap dan rapi aku keluar kamar dengan wajah senang ingin segera menyapa mama dan papa, tapi ketika pintu kamar kubuka yang kulihat bukan wajah kedua orang tuaku melainkan wajah puluhan orang berbaju hitam sedang duduk membaca yasin bersama dan ditengahnya... disana... ada papa dan mama terbaring dengan kain kafan. Apakah ini mimpi? Orang-orang itu menatapku aneh menatapku dari atas kebawah serasa aku salah berpakaian seragam biru putih ini.
“sakinah...kamu mau kemana? Sekarangkan tujuh hari orang tuamu” tanya om hasan adik papa.
Seperti tersengat petir hati ini mendengar itu, berapa lamakah aku tertidur dikamar?


CERPEN 2
Syafa tidak lagi seperti dulu, sejak ayah dan ibunya dipenjara 1 tahun lalu dan dicap sebagai koruptor negara, ia menjadi muram, pendiam, bahkan menyendiri. Padahal dulu ia dikenal sebagai pribadi yang santun, ceria dan supel. Aku sebagai sahabatnya pun tak mampu menghiburnya, dia malah menjauh kala aku mencoba mendekat, ia hanya berkata kepadaku saat diruang kelas yang sunyi
“biarkan aku sendiri wi, bertemanlah dengan yang lain aku tidak mau kamu malu berteman dengan anak koruptor sepertiku”.
Syafa tidak tahu bahwa aku rela berteman dengannya dan tetap disampingnya, karena bagiku, Syafa adalah sahabatku yang tak kan pernah terganti, dulu atau sekarang tetap sama, bukankah tidak ada ungkapan mantan sahabat. Karena itu aku akan tetap disini meski berpuluh, beratus, atau bahkan beribu kali ia mengusirku, aku akan tetap disisinya.
“Sahabat itu setia bukan? Sahabat itu tak akan mungkin meninggalkan bukan?”tanyaku padanya yang dibalas dengan sapuan kebisuan.
Ohhh...Syafa seandainya aku dapat masuk kedalam duniamu yang sekarang, dunia yang hanya ada dirimu seorang tanpa perduli pada yang lain, agar aku dapatt membawamu kembali kepada kehidupan yang indah dan ceria.



Catatan:
Perhatikan! penulisan dialog selalu membuat baris baru dan jangan terlalu banyak dialog pada cerpenmu, jangan banyak mengulang kata (dan, lalu, kemudian) pada satu paragraf.

Rabu, 12 Juni 2013

PLUTO SI MANTAN PLANET (cerita mini)

CERPEN  itu memang cerita pendek, dibawah ini ada sedikit cerita yang kalau dikatakan cerpen sangat pendek, kalau dikatakan cerbung tidak bersambung, kalau dikatakan novel apalagi bukan. lalu saya menyebut cerpen yang lebih sedikit dari cerpen asli ini menjadi cerita mini, kenapa mini karena tidak lebih dari 100 kata, ada ya yang seperti ini, ada tentu ada. ini buktinya.

Jika dapat digambarkan rasa sakit itu, Pluto paling tahu rasanya, setiap hari Pluto menangis mengenang masa-masa kebersamaannya dengan teman-temannya sesama planet. Setelah orang-orang pintar itu mengatakan Pluto bukan lagi planet dalam tatasurya, Pluto sungguh sangat sakit hati. Pluto merasa dulu ia disanjung, diberi nama bahkan dimasukan kedalam urutan planet terdekat dari matahari meskipun itu urutan kesepuluh. Tapi sekarang mereka membuangnya begitu saja.
“Mereka kejam” ucap Pluto yang sedang curhat kepada Bumi ketika Bumi mengunjunginya. Bumi paling tahu perasaan Pluto meskipun lintasan mereka tidak dekat, tapi dalam lingkup tatasurya mereka dapat saling berbagi.
 “Tenanglah Pluto, biar saja mereka mengatakan apa, Tuhanlah yang menciptakanmu, Ia yang tahu yang terbaik untukmu, dan bagiku kau tetap saudaraku, aku dan teman-teman sesama planet pun sangat merindukanmu”

Pluto sangat terharu dengan ucapan Bumi, ia dan Bumi pun saling berpelukan mengurai kerinduan mereka.

Senin, 11 Juni 2012

PUISI SAPARDI DJOKO DAMONO

Hari ini aku teringat sebuah puisi milik pak Sapardi Djoko Damono, sebuah puisi yang membuat hatiku terenyuh membacanya, banyak karya sastrawan kenamaan ini yang benar-benar bisa membuat bergetar siapapun yang mendengar dan membacanya, ini beberapa kilas puisi karya beliau:

KUINGIN

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
lewat kata yang tak sempat disampaikan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana
leat kata yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada


Ada pula puisi karya beliau yang lain tapi aku tak ingat judulnya hanya saja pernah baca disebuah soal ujian Bahasa Indonesia.

ketika berhenti disini
ia mengerti
ada yang tlah musnah
beberapa patah kata
yang segera dijemput angin
begitu diucapkan
dan tak sampai kepada siapapun

wow dua puisi penyampaian cinta dalam diam yang tak perlu disampaikan bahkan tak sempat untuk disampaikan, indah bukan.. hmmm.. sampai saat ini dua puisi ini yang selalu aku ingat mengenai CINTA.

PUISI AKROSTIK

Ternyata ada cara bikin puisi yang paling gampang, khususnya buat para Pemula atau kamu-kamu yang baru mulai belajar nulis puisi tanpa harus repot-repot nyari ide, mikirin metafora, diksi, rima, sanjak (persamaan bunyi), gaya, majas, dll.

Puisi itu dinamakan Puisi Akrostik.

Akrostik aslinya dari bahasa Yunani, Akrostichis.

PUISI AKROSTIK adalah : Sajak atau puisi yang huruf awal dari setiap baris menyusun sebuah kata atau kalimat secara vertikal dari atas ke bawah. Puisi Akrostik biasanya membicarakan apa yang menjadi susunan huruf yang membentuk sebuah kalimat di awal baris.

Yang paling penting dalam membuat Puisi Akrostik adalah : mengait-ngaitkan huruf awal dengan gagasan yang akan kita kemukakan. Puisi ini bisa kita gunakan sebagai latihan menulis puisi sambil belajar memilih diksi yang tepat untuk menyampaikan pesan.

Contoh Puisi Akrostik.

REFAYA ERMA 

Rasa-rasanya kita pernah bertemu

Entah kapan entah di mana

First time I saw you

Aku langsung jatuh hati padamu

Yakin

Aku tak mengada-ada

Entah sadar entah tidak

Rasa-rasanya hatiku memang sudah jatuh

Maukah kau menyimpannya

Ambillah, itu memang sengaja kujatuhkan untukmu

Jumat, 12 Agustus 2011

PUISI CHAIRIL ANWAR

AKU
Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943



Minggu, 31 Juli 2011

CONTOH CERPEN :OASE DIHATI IBU

Sejak dulu aku menunggu...
menunggu sebuah oase dihatimu..
menunggu sebuah kasih yang mungkin terlampau mahal untuk kau beri..
menunggu sejumput keikhlasan cinta bagi diriku sendiri

A
ku adalah anak sulung dari empat bersaudara, jarak kami pun hanya selang satu tahun saja, adik pertama dan keduaku perempuan dan yang terakhir laki-laki. Sejak kecil kami terbiasa membagi apapun bersama-sama, makanan atau pun barang, kami jarang bertengkar kalaupun ada mungkin segera dapat diselesaikan, kami sangat rukun, tapi aku merasa sungguh berbeda dengan saudara-saudaraku itu. Biasanya saudara kandung itu sangat mirip bukan? Tapi tidak dengan ku, adik pertama dan keduaku Sisy dan Titi adalah gadis yang amat cantik, wajah keduanya sangat mirip, kulit mereka pun putih merona, membuat semua orang silau bila memandang mereka berdua, tapi aku? Aku hanya anak perempuan berkulit gelap yang tidak pintar berdandan. Pernah suatu hari aku mendengar seorang tetangga berkata pada ibuku
“jeng.. Pury beda ya dengan adiknya, adiknya cantik tapi dia kok nggak ya?”
“ah.. iya tahu tuh ngikutin siapa”jawab ibu singkat
Hatiku bagai tersengat listrik ribuan watt, bagaimana mungkin ibu menjawab demikian sedangkan aku adalah anaknya. Ahh.. mungkin saja ibu hanya bergurau pikirku dalam hati. ibu memang seperti itu, selalu berkata ketus, tapi aku yakin ibu tidak bermaksud menjelekkan aku.
***
P
agi ini aku kesiangan, ibu tidak membangunkanku untuk kesekolah sedangkan semua adikku sudah duduk di meja makan. Aku bergegas mandi dan ketika aku sampai dimeja makan semua sudah berangkat, makanan di meja pun sudah dirapikan.
“Bu, kok udah diberesin sih?” tanyaku
“salah sendiri kenapa kesiangan?, sudah SMA kok masih kesiangan?”jawab ibu yang berlalu pergi.
Akhirnya pagi itu aku berangkat kesekolah dengan perut kosong, aku paham memang sudah peraturan dirumah kalau waktunya makan harus makan bila terlambat maka tidak dapat jatah makan. Tapi masa sih ibu setega ini sama aku? Sedangkan waktu Ilham terlambat sarapan saja ibu tetap memberi dia makan dengan membawakannya bekal. Ahh.. ibu tidak adil.
Ini bukan hanya terjadi sekali ini saja tapi sudah berkali-kali, ibu memang memperlakukanku dengan berbeda sejak dulu, waktu SD ibu tidak pernah mengantar atau menjemputku sedangkan ketiga adikku diantar dan di jemput olehnya, aku malah di antar dan di jemput oleh supir, saat beliau sedang makan ia menyuapi makanan ke mulut Sisy, ketika aku meminta perlakuan yang sama ibu malah menyuruhku untuk mengambil sendiri. Saat hari ulang tahun kami, semua dijahitkan baju baru oleh ibu, sedangkan aku hanya di berinya uang untuk membelinya sendiri. Belum lagi ketika acara sekolah yang melibatkan orang tua murid, saat itu ibu diminta untuk datang tapi ibu malah menyuruh Bi Sumi untuk menggantikannya karena ia harus kesekolah Titi.
Adil..aku tak penah menerima kata adil itu dalam hidupku, tidak darinya tidak juga dari siapapun.
***
D
etik-detik pengumuman ujian telah di tentukan, aku sangat takut sekali akan hasilnya. Aku ingin membuktikan pada ibu bahwa aku bisa menjadi anak kebanggaanya. Hari ini ayah yang mengambil hasilnya kesekolah, karena ibu ada urusan di sekolah Ilham. Aku menunggu dirumah dengan cemas, tapi ayah belum pulang juga. Beberapa menit kemudian ibu pulang bersama Ilham, ibu mengatakan bahwa nilai rapot Ilham benar-benar bagus makanya ia lulus di SMPnya dengan nilai terbaik. Selang beberapa waktu Kemudian ayah pulang dengan wajah sendu. aku buru-buru bertanya mengenai hasil ujianku.
“Yah, gimana hasilnya, Pury luluskan?”
Ayah hanya diam, ibu langsung merebut kertas yang di pegang ayah. ibu membacanya dan diam lalu pergi sambil membuang kertas itu di lantai. aku bingung lalu tiba-tiba ayah bersorak
“LULUS..kamu lulus sayang, dengan nilai ujian tertinggi disekolah”
Aku lulus, menjadi yang terbaik pula, lalu kenapa ibu bersikap seperti itu? Bukankah beliau seharusnya mengucapkan selamat kepadaku, menciumku, dan memelukku seperti yang dilakukannya pada Ilham. ibu kenapa begitu? ayah menghampiriku dan mencium pipiku sambil mengatakan “ selamat ya sayang, Pury lulus dengan nilai terbaik, Pury mau hadiah apa dari ayah? Ayah akan berikan semua yang Pury inginkan”

ayah, hadiah yang ku inginkan hanyalah ibu mau memelukku, hanya itu

Andai aku bisa mengatakan itu pada ayah, meskipun ibu tidak memelukku tapi aku telah mendapat pelukan hangat dari ayah dan ketiga adikku, itu sudah cukup Allah.
***
L
ulus SMA aku tidak kuliah, aku memutuskan untuk bekerja, meski ayah berulang kali menanyakan alasan kenapa aku tidak mau kuliah aku hanya menjawab simpel saja “ Pury mau kerja dulu ayah, Pury akan kuliah pakai uang Pury sendiri”.  Sebenarnya bukan karena alasan itu, tapi karena aku tidak mau merepotkan ayah dan ibu lagi, terlebih lagi aku mendengar keluhan ibu kepada ayah yang merasa lelah harus mengurus aku, saat itu ibu mengusulkan agar aku dikuliahkan diluar kota saja biar tidak selalu di rumah. Selama sebulan aku menjadi pengangguran dirumah, dan selama itu pula ibu mengoceh tiada henti.
“ kuliah nggak mau, sampai sekarang belum kerja juga, mau jadi apa lulusan SMA? Dari kemarin Cuma melototin koran saja”
ibu selalu seperti itu, berkata dengan ketusnya, aku sempat berpikir apa aku ini bukan anaknya? Apa aku salah? Aku kesal pada ibu, aku tersinggung, bukankah seharusnya beliau menyemangatiku? Memberikanku dorongan untuk maju? Tapi aku malah menerima perlakuan sebaliknya. Setiap aku sedih aku selalu kerumah mbah putri, ibu kandung ayah, aku selalu mendapat kasih sayang yang lebih darinya, Aku berkata pada mbah putri “ ibu tidak sayang aku mbah, ibu lebih sayang sama anaknya yang lain”
mbah putri selalu mengelus rambutku dan menidurkanku di pangkuannya sambil bercerita lirih dengan kalimat-kalimat yang menyangga perkataanku tadi, aku seperti seorang anak kecil dihadapannya.

 Andai saja cinta seperti ini bisa ku dapatkan dalam dirimu Bu..
***
A
ku diterima bekerja sebagai karyawan disebuah produk makanan di jakarta, aku pun mengatakan pada ayah. Tapi ayah melarangku untuk bekerja disana.
”jakarta? kamu ingin tinggal di jakarta dan kerja disana?, kenapa nggak yang di jogja aja sih sayang, disini kan juga banyak kerjaan?” ucap ayah
Aku mengerti dengan pasti bahwa sesungguhnya ayah tidak mau aku jauh darinya tapi aku ingin pergi jauh dan mengurangi beban ibu untuk merawatku.
“biarlah Pury pergi, biar dia mandiri, kalau kamu takut biar Pury tinggal bersama kakak ku disana”ucap ibu menyanggah

Bu..kau ingin aku pergi karena tidak mau aku bersamamu kan bu? Karena aku selalu merepotkanmu dan membuatmu marah kan bu?

Hhhh.. jahat sekali aku berpikir seperti itu tentang ibu, mungkin ibu memang hanya ingin aku mandiri saja. Di ujung hatinya pasti tidak rela aku pergi.
***
lima tahun kemudian
“kapan kamu siap? Kenapa kamu nggak kenalin aku ke orang tuamu?” kata Rahman
Lelaki jangkung itu menatapku terus menerus, menunggu jawabanku yang masih sibuk menghabiskan  jus mangga.
“Pury..jawab aku?”tambahnya lagi
“Man,aku bingung, aku pergi ke jakarta untuk bekerja dan kuliah, dan aku malah bertemu denganmu, kuliah saja belum ku mulai dan bagaimana mungkin aku mengatakan bahwa aku mau menikah?”
“sekarang terserah kamu, aku nggak akan maksa, kamu pikirkan lagi, menikah denganku, atau terus kerja rodi seperti ini” ucapnya yang berlalu pergi meninggalkan aku di meja cafe sendiri.
Rahman memang baik, aku bertemu dengannnya di cafe ini, dua tahun yang lalu, dia adalah seorang pengusaha tanaman di daerah bogor, selama aku berada di jakarta aku bekerja di berbagai tempat, itu semua demi mengumpulkan uang untuk kuliah, pagi aku bekerja di toko roti, siang aku di cafe ini dan malam aku bekerja membuat sulaman dari rumah tetangga. Selama ini aku belum pulang ke jogja paling hanya menelepon saja, untungnya ayah mengerti, ayah bilang ia dan semuanya merindukanku, aku percaya bahwa ayah, mbah putri dan adikku merindukanku tapi apa ibu juga? Ah ibu.. sudah lama aku tak mendengar suaramu.

Haruskah aku menikah? Meninggalkan semua tujuanku selama ini?
***
H
ari ini aku kembali ke jogja bersama Rahman, ya.. aku telah memutuskan untuk menikah dengannya, entah apa nanti yang akan dikatakan ibu, aku sudah tidak perduli, aku berhak memilih kebahagiaanku sendiri. Sebenarnya aku memilih melakukan ini karena suatu hal, suatu hal yang membelokanku kepada sebuah takdir yang tidak dapat aku prediksi, aku menderita penyakit kronis, tepatnya penyakit ginjal, dokter Reza bilang aku harus selalu cuci darah dua minggu sekali dan itu semua dengan biaya yang tidak sedikit. Selama ini aku membiayai cuci darahku sendiri, orang tuaku pun tidak tahu, aku menyembunyikannya dari keluargaku. Aku sudah menyembunyikan ini selama 3 tahun, Tadinya aku juga menyembunyikanya dari Rahman tapi ternyata waktu pun memperlihatkan sendiri padanya, ia melihatku jatuh pingsan di depan apotik saat akan membeli obat, saat itu ia tidak bertanya apapun perihal kenapa aku pingsan, dan untuk apa aku membeli obat, rupanya ia mencari tahunya sendiri dari obat yang ku beli. Ia tahu dengan pasti penyakitku, tapi ia tetap mau menikahiku, ya Rahman telalu baik untukku, dulu ku pikir bagaimana mungkin seorang gadis berpenyakit yang hidupnya di tentukan oleh selang darah masih bisa membayangkan pernikahan? Tapi Rahman meyakinkanku satu hal bahwa tidak ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan, tidak ada alasan untuk menikahiku selain seperangkat cinta yang di junjungnya, aku pun luluh menerimanya, karena aku merasa bahwa aku harus memilih takdirku sendiri.
“katanya mau kuliah pakai uang sendiri, pergi nggak pulang-pulang, datang hanya bilang mau menikah, lihat adik-adikmu, Sisy sukses dengan program gurunya, Titi sukses dengan pilihanya sebagai perawat, dan Ilham memilih arsitektur” ibu terus berceloteh meskipun ada Rahman disana.
Yang ku pikirkan bukan apa yang akan dikatakan ibu selanjutnya tapi apa yang akan dikatakan Rahman melihat ibu yang terus menerus memarahiku, membandingkanku dengan ketiga anaknya, mengolok-olokku dengan berbagai hal yang membuat panas hati dan telinga.

Bu sesungguhnya aku sangat membencimu
Membenci tabiatmu yang seperti batu
Membenci semua hal yang keluar dari mulutmu
Karena tak pernah kutemukan rayuan disana
Adab kebanggaan pun seakan sirna
Bagai menebar puluhan duri disetiap kata

Rupanya kekhawatiranku tak berwujud rahman tidak mempermasalahkan tentang ibu, ia malah meyakinkanku bahwa semua akan berjalan sesuai rencana. Rahman kau sungguh baik, tapi apakah ini benar? Membiarkanmu menikahi perempuan berpenyakit yang tak tahu berapa lama lagi hidupnya, tapi kau selalu mengatakan bahwa cintamu tidak pernah pupus oleh waktu, oleh badai, oleh apapun yang menerjang, sesungguhnya yang ku takutkan adalah aku yang hanya akan memberimu kesusahan dan luka saja bila hidup bersamaku.

Hanya cinta yang bisa ku beri
Aku akan menutup kekurangan dihidupmu
Kasih sayang yang tak pernah disuguhkan oleh ibumu

Begitulah kau berjanji padaku, hingga aku mempercayakan hidupku padamu, hingga semua itu terbukti, seseorang yang selalu memenuhi janjinya, membawaku berobat setiap 2 minggu, menggendongku dalam pelukmu ketika kau temukan aku bersimbah darah dihadapanmu, kau tidak pernah jijik padaku, kau selalu memberi yang terbaik, kau tidak pernah mengeluh sekalipun, hingga malam hari ku dengar tangismu pecah bersama keheningan malam, memohon pada yang kuasa tentang hidupku yang tinggal menghitung hari, tentang ibuku yang tak pernah mau menjengukku, tapi kau menutupinya kau bilang” ibu tidak datang karena ku bilang kau sakit demam saja”aku memang tak pernah mengijinkanmu mengatakan apapun tentang penyakitku, tidak pada keluargaku atau siapapun. Hingga semua pintu itu terbuka dengan sendirinya. Saat itu Titi datang berkunjung ia menginap dirumah kami, saat itu penyakitku kambuh karena aku memakan makanan yang di bawa Titi, padahal dokter sudah melarang makan-makanan berbaur garam termasuk oseng-oseng kulit melinjo kesukaanku. Ia melihatku dengan jeli.
“mbak sakit?, kok mbak pucat?”tanyanya mendekat
“nggak kok mbak baik-baik aja”
“aku memang tidak dapat menyembunyikan ekspresiku saat itu terlebih lagi dihadapan seorang perawat seperti dirinya, ia pun menarik tanganku dan menggulung kaus panjang yang kukenakan. Ia melihatnya, bekas tusukan jarum suntik di semua tanganku.
“mbak cuci darah? Sejak kapan? Kok mbak nggak bilang? Kenapa mbak sembunyikan ini?”
Aku tidak dapat berkata apa-apa, aku hanya meringis, menahan sakit disekujur tubuhku, tiba-tiba semuanya gelap dan Aku pun tidak sadarkan diri.
***
A
ku telah sadar kembali, dengan puluhan selang diseluruh tubuhku, cairan-cairan itu bertukar tempat, berlari menuju jalur-jalur muaranya. Kulihat sesosok wanita menangis dihadapanku, memanggil namaku, ia terus menerus memanggilku bersama suara-suara lain disekelilingnya. Ibu.. ya ibu.., ibu datang menjengukku di rumah sakit, disaat kondisiku tidak dapat ku prediksi kembali, ibu.. aku ingin memanggilnya, memberitahunya bahwa aku sakit, memberitahunya bahwa sakit ini begitu sakit, memberi tahunya bahwa aku menyayanginya, aku ingin mengatakan bahwa  aku senang ia datang, memberitahunya bahwa aku ingin ia memelukku, tapi aku tidak mampu, mulutku tertutup tabung oksigen, tanganku dijerat oleh selang-selang plastik yang membuatku tak mampu menggapainya, ini seperti mimpi, ibu memelukku ia seperti mendengar semua yang ingin kukatakan, ia mendekapku lama sekali, air matanya jatuh dipipiku, entah apa yang ibu katakan aku tak bisa mendengarnya yang pasti dalam pelukmu aku akan pergi dengan bahagia Bu, pelukanmu bagai oase yang menyejukkan tubuhku. Aku tidak menyesal dilahirkan kedunia ini. Aku sangat berterimakasih karena Allah memberiku ibu seperti dirimu, aku tahu sesungguhnya kau sangat menyayangiku.

Aku telah tertidur lama
Tertidur dalam rahimmu
Kini aku akan tidur kembali dalam waktu yang sangat lama dalam oase dihatimu
Dalam kesejukan dekapan itu
***
EPILOG
D
i depan tanah merah hari itu, ia berada pada pembaringannya, pada jasad yang telah bersemayam dalam dasar bumi. Pada kerinduan kasih yang tak terlampiaskan sama sekali. Ia anakku. Anak pertamaku. Anak yang tak sempat ku sayangi. Karena kesalahanku sendiri, melihat wajahnya, mengingatkanku pada para pemerkosa yang biadab itu, yang membuatku membencinya. Ia memang tidak salah, ia tidak pernah meminta untuk dilahirkan ke dunia. Tapi aku telah menyia-nyiakannya. Maafkan aku anakku. Sesungguhnya aku sangat menyayangimu.
***
END
My inspiration is my aunty (Alm. Purwanti)
Sumber:cerpen ini adalah karya saya sendiri yang diterbitkan dalam buku kumpulan cerpen "Kata Anak Muda" di UNINDRA PGRI

PANTUN,GURINDAM, SELOKA

Berdasarkan Teks Kajian Terdapat 4 Puisi Melayu Lama
1. pantun
2. syair
3. gurindam
4. seloka
1.  Pantun
Kedudukan Pantun dalam Puisi Melayu Tradisi
a. Milik melayu asli.  Berbanding dengan syair, seloka dan gurindam, pantun adalah puis yang lahir daripada maysarakat melayu tradisi yang amat tinggi nilainya.
b. Puisi Melayu yang tertua., iaitu yang pertama sekali lahir dalam masyarakat Melayu.
c. Mempunyai kepelbagaian bentuk. Ada yang 2 kerat, 4 kerat, lapan kerat, berkait dan seterusnya.
d. Popular dalam semua lapisan masyarakat. Pantun terkenal di kalangan orang tua, orang muda dan  kanak-kanak.
e. Mampu membawa tema yang pelbagai seperti kasih sayang, nasihat, agama, adat, budi,cinta, cinta, dan sebagainya
f. Mampu membawa makna yang tersirat secara halus dan berkesan. Ini sesuai dgn jiwa masyarakat melayu yang suka mendidik secara halus.
g. Mudah dicipta secara spontan
h. Mencerminkan pancaran nilai budaya Melayu
Nota :  perlu kemukakan contoh dalam menjawab soalan.
 
Ciri-ciri kelebihan pantun
a. Wujud pembayang dan maksud dalam setiap rangkap.  Ciri ini tidak terdapat dalam puisi yang lain.
b. Boleh berdiri sendiri kerana setiap rangkap pantun sudah membawa makna yang lengkap berbanding dengan syair yang memerlukan perkaitan dengan rangkap2 berikutnya.
c. Rima tengah atau jedanya ditekan di dalam pantun, tetapi tidak demikian dalam puisi lain.
d. Ada unsur persamaan dengan puisi lain terutama syair seperti dari segi rima akhirnya, jumlah perkataan dan sukukata.
Kepentingan pantun
a. pantun dapat disulami dalam puisi melayuu yang lain bagi mempelbagaikan ungakapan. Contohnya dalam nyanyian rakyat. Gurindam. Bahasa berirama dll.
b. Membantu mempertingkatkan daya estetika (keindahan) puisi-puisi lain.
c. Menjadi pemanis kata dan pengindah bicara dalam ungkapan-ungkapan bahasa yang puitis.
d. Melambangkan budaya tinggi dalam ciptaan sastera.
2. Syair telah dijelaskan dalam terbitan sebelumnya
3.GURINDAM  
Ciri-ciri bentuk Gurindam
a. Merupakan puisi bebas atau tidak terikat
b. Rangkap :  Mempunyai 2 baris dalam serangkap atau beberapa baris dalam serangkap.  Setiap baris dalam rangkap merupakan isi atau maksud dan perlu bersambung dengan baris-baris dalam rangkap berikutnya untuk membawa makna yang lengkap.
Baris pertama dikenali sebagai “syarat” dan baris kedua dikenali sebagai “jawab”. Baris pertama “syarat” menyatakan sesuatu fikiran atau peristiwa dan baris kedua pula menyatakan keterangan atau menjelaskan apa yang telah dinyatakan oleh baris atau ayat pertama tadi.
c. Perkataan :  jumlah perkataan sebaris juga tidak tetap.
d. Sukukata :  julah sukukata juga tidak tetap.
e. Rima : rima akhirnya juga tidak tetap
3. SELOKA
ciri-ciri bentuk
a. Merupakan puis bebas atau tidak terikat
b. Rangkap :  Bilangan baris dalam serangkap tidak tetap
c. Perkataan : jumlah perkataan dalam sebaris juga tidak tetap.
d. Sukukata :  jumlah sukukata dalam sebaris juga tidak tetap.
e. Rima :  Rima akhirnya dalam serangkap juga tidak tetap.

SAJAK

Kata sajak dikenal dalam kesusastraan Indonesia. Penggunaan istilah ini sering dicampuradukkan dengan puisi. Padahal, puisi berasal dari bahasa Belanda, dari kata poezie. Dalam bahasa Belanda, dikenal dengan istilah gedicht.
Dalam bahasa Indonesia (Melayu) hanya dikenal istilah ini mengandung arti poezie maupun gedicht sekaligus. Istilah puisi cenderung digunakan untuk berpasangan dengan istilah prosa, seperti istilah poetry dalam bahasa Inggris yang dianggap sebagai salah satu nama jenis sastra.
Dengan demikian, istilah ini lebih bersifat khusus, individunya, sedangkan puisi lebih bersifat general, jenisnya.
Sajak adalah puisi, tetapi tidak sebaliknya. Puisi bisa saja terdapat dalam prosa seperti cerpen, novel, atau esai, sehingga orang sering mengatakan bahwa kalimat-kalimatnya puitis (bersifat puisi).

Menurut Putu Arya Tirtawirya, puisi menjadi suatu pengungkapan secara implisit, samar, dengan makna yang tersirat, dimana kata-kata condong pada artinya yang konotatif.
Sajak memiliki makna lebih luas. Tidak sekadar hal yang tersirat, tetapi sudah menyangkut materi isi puisi, bahkan sampai pada efek yang ditimbulkan, seperti bunyi. Karenanya, ia terkadang juga dimaknai sebagai bunyi. Pada hakekatnya, ia mengundang kata berasosiasi. Tidak berinterpretasi, bertafsir-tafsir.

Bagi Subagio Sastrowardoyo, ia adalah apa yang lahir setelah ‘malam yang hamil oleh benihku. Adalah bayi yang dicampakkan ke lantai bumi. Sajak seperti anak haram tanpa ibu membawa dosa pertama di keningnya.
Sedangkan Subagio Sastrowardoyo berpendapat bahwa sajak berguna untuk mengingatkan kita pada kisah dan keabadian. Melupakan kepada pisau dan tali. Melupakan kepada bunuh diri.

Sajak bagi Chairil adalah alamat kemana ia menuju setelah lari dari gedong lebar halaman, dan ketika tersesat tak dapat jalan.

Sajak bagi Goenawan Mohamad adalah catatan kita bagi dingin yang tak tercatat pada termometer. Ketika kota basah, angin mengusir kita di sepanjang sungai, tapi kita tetap saja di sana. Mengamati, mencatat. Seakan gerimis raib dan kita saksikan cahaya berenang mempermainkan warna. Ia adalah ketika kita merasakan bahagia meski tak tahu kenapa.
Tema tentang sajak, baik tersurat guratnya atau hanya tersirat seratnya, atau bahkan cuma bisa kita tafsirkan saja salah satunya, hampir selalu ada ditulis oleh setiap penyair. Mungkin ini sebagai wujud kekariban. Atau persembahan untuk ia sendiri.
Ketika menggubah sajak, maka juga terkandung makna hidup yang dihayati oleh penyair. Ya, karena ia adalah kehidupan. Keduanya sangat dekat. Keduanya saling ada di dalam keduanya: ia ada dalam kehidupan dan kehidupan ada didalamnya. Ia adalah alat yang bisa sangat bermanfaat untuk merumuskan rumit dan samarnya kehidupan.

Sitok Srengenge, menerjemahkan apa peran sajak dan penyair bagi hidupnya dan kehidupan manusia. Sebenarnya selalu ada yang puisi dalam segala sesuatu yang bukan puisi. Dan peran luhur kepenyairan bisa dijalankan oleh siapa saja yang bukan penyair.
Sebaliknya penyair yang mengaku paling penyair pun bisa saja menempuh jalan lenceng: keluar dari jalur luhurnya, tak lagi menjadi dan menjadikan rahasia dalam kata, tak lagi menjelma dan menjelmakan tanda atas fana.

 

SYAIR

Kamu tentu pernah mendengar syair. Namun, tahukah kamu, apakah syair itu? Syair termasuk dalam karya sastra lama. Syair adalah bentuk puisi terikat yang tersusun secara catur rangkai (empat larik), berima sama, dan digunakan untuk mengantarkan cerita. Puisi bentuk syair berasal dari pengaruh kebudayaan Arab.
1. Pengertian Syair
Seperti dijelaskan di atas, syair merupakan puisi klasik yang dipengaruhi kebudayaan Arab. Syair digunakan sebagai pengantar cerita.
2. Ciri-Ciri Syair
Syair memiliki beberapa ciri, yaitu sebagai berikut.
a. Terdiri empat larik setiap baitnya (catur rangkai).
b. Tiap baris terdiri 8 sampai 16 suku kata.
c. Semua bagian adalah isi dan terdiri atas beberapa bait.
d. Berima atau bersajak a-a-a-a.
e. Syair berfungsi untuk mengantarkan cerita.
Contoh syair antara lain Syair Ken Tambuhan, Syair Bidasari, Syair Perahu, Syair Panji Sumirang, dan sebagainya.
3. Menemukan Tema dan Pesan dalam Syair
Menemukan tema dalam sebuah syair berarti memahami substansi atau isi syair. Tema bermacam-macam bentuk, seperti tema keagamaan, adat, nasihat, pendidikan, hiburan, dan lainlain. Pesan adalah sesuatu yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca atau pendengar, tujuannya supaya pembaca dapat memetik hikmah cerita.
Tema dan pesan dalam sebuah syair dapat ditemukan dengan membaca, memahami, dan mendengarkan syair dengan saksama.
Dengarkanlah pembacaan kutipan syair berikut yang akan dibacakan oleh dua orang kawanmu!
Syair Ken Tambuhan
. . . . . . . .
Lalulah berjalan Ken Tambuhan
Diiringkan pelipur dengan tadahan
Lemah lembut berjalan perlahan-lahan
Lakunya manis memberi kasihan
Wajah yang manis pucat berseri
Laksana bulan kesiangan hari
Berjalan tunduk memikirkan diri
Tiada memandang kanan dan kiri
Diiringkan pelebaya dari belakang
Lakunya hebat bukan kepalang
Keris sempana hadir di pinggang
Memberi dahsyat segala segala yang memandang
Ken Tambuhan pun sampai ke pintu kota
Segala yang tinggal menyapu air mata
Akan para puteri jangan dikata
Rasanya hendak pergi beserta
Tunduk menangis segala puteri
Masing-masing berkata sama sendiri
Jahatnya perangai permaisuri
Lakunya seperti jin dan peri
Setelah kamu menyimak pembacaan syair di atas, jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut!
1. Berapa bariskah syair di atas?
2. Berapa suku kata dalam setiap barisnya?
3. Bagaimana rima atau persajakan tiap bait dalam syair di atas?
Tunjukkan jawabanmu dengan mengutip syair tersebut!
4. Apa tema syair tersebut? Jelaskan dengan menyertakan kutipan dan maknanya!
5. Pesan apa yang hendak disampaikan penyair kepada pendengar atau pembaca syair tersebut? Jelaskan!
Kerjakan latihan berikut!
1. Dengan bahasamu sendiri, coba ceritakan isi dalam syair di atas dalam tiga atau empat paragraf!
2. Gunakan bahasa yang jelas dan mudah dipahami!
3. Mintalah kawan yang lain memberi penilaian