Minggu, 31 Juli 2011

PANTUN,GURINDAM, SELOKA

Berdasarkan Teks Kajian Terdapat 4 Puisi Melayu Lama
1. pantun
2. syair
3. gurindam
4. seloka
1.  Pantun
Kedudukan Pantun dalam Puisi Melayu Tradisi
a. Milik melayu asli.  Berbanding dengan syair, seloka dan gurindam, pantun adalah puis yang lahir daripada maysarakat melayu tradisi yang amat tinggi nilainya.
b. Puisi Melayu yang tertua., iaitu yang pertama sekali lahir dalam masyarakat Melayu.
c. Mempunyai kepelbagaian bentuk. Ada yang 2 kerat, 4 kerat, lapan kerat, berkait dan seterusnya.
d. Popular dalam semua lapisan masyarakat. Pantun terkenal di kalangan orang tua, orang muda dan  kanak-kanak.
e. Mampu membawa tema yang pelbagai seperti kasih sayang, nasihat, agama, adat, budi,cinta, cinta, dan sebagainya
f. Mampu membawa makna yang tersirat secara halus dan berkesan. Ini sesuai dgn jiwa masyarakat melayu yang suka mendidik secara halus.
g. Mudah dicipta secara spontan
h. Mencerminkan pancaran nilai budaya Melayu
Nota :  perlu kemukakan contoh dalam menjawab soalan.
 
Ciri-ciri kelebihan pantun
a. Wujud pembayang dan maksud dalam setiap rangkap.  Ciri ini tidak terdapat dalam puisi yang lain.
b. Boleh berdiri sendiri kerana setiap rangkap pantun sudah membawa makna yang lengkap berbanding dengan syair yang memerlukan perkaitan dengan rangkap2 berikutnya.
c. Rima tengah atau jedanya ditekan di dalam pantun, tetapi tidak demikian dalam puisi lain.
d. Ada unsur persamaan dengan puisi lain terutama syair seperti dari segi rima akhirnya, jumlah perkataan dan sukukata.
Kepentingan pantun
a. pantun dapat disulami dalam puisi melayuu yang lain bagi mempelbagaikan ungakapan. Contohnya dalam nyanyian rakyat. Gurindam. Bahasa berirama dll.
b. Membantu mempertingkatkan daya estetika (keindahan) puisi-puisi lain.
c. Menjadi pemanis kata dan pengindah bicara dalam ungkapan-ungkapan bahasa yang puitis.
d. Melambangkan budaya tinggi dalam ciptaan sastera.
2. Syair telah dijelaskan dalam terbitan sebelumnya
3.GURINDAM  
Ciri-ciri bentuk Gurindam
a. Merupakan puisi bebas atau tidak terikat
b. Rangkap :  Mempunyai 2 baris dalam serangkap atau beberapa baris dalam serangkap.  Setiap baris dalam rangkap merupakan isi atau maksud dan perlu bersambung dengan baris-baris dalam rangkap berikutnya untuk membawa makna yang lengkap.
Baris pertama dikenali sebagai “syarat” dan baris kedua dikenali sebagai “jawab”. Baris pertama “syarat” menyatakan sesuatu fikiran atau peristiwa dan baris kedua pula menyatakan keterangan atau menjelaskan apa yang telah dinyatakan oleh baris atau ayat pertama tadi.
c. Perkataan :  jumlah perkataan sebaris juga tidak tetap.
d. Sukukata :  julah sukukata juga tidak tetap.
e. Rima : rima akhirnya juga tidak tetap
3. SELOKA
ciri-ciri bentuk
a. Merupakan puis bebas atau tidak terikat
b. Rangkap :  Bilangan baris dalam serangkap tidak tetap
c. Perkataan : jumlah perkataan dalam sebaris juga tidak tetap.
d. Sukukata :  jumlah sukukata dalam sebaris juga tidak tetap.
e. Rima :  Rima akhirnya dalam serangkap juga tidak tetap.

SAJAK

Kata sajak dikenal dalam kesusastraan Indonesia. Penggunaan istilah ini sering dicampuradukkan dengan puisi. Padahal, puisi berasal dari bahasa Belanda, dari kata poezie. Dalam bahasa Belanda, dikenal dengan istilah gedicht.
Dalam bahasa Indonesia (Melayu) hanya dikenal istilah ini mengandung arti poezie maupun gedicht sekaligus. Istilah puisi cenderung digunakan untuk berpasangan dengan istilah prosa, seperti istilah poetry dalam bahasa Inggris yang dianggap sebagai salah satu nama jenis sastra.
Dengan demikian, istilah ini lebih bersifat khusus, individunya, sedangkan puisi lebih bersifat general, jenisnya.
Sajak adalah puisi, tetapi tidak sebaliknya. Puisi bisa saja terdapat dalam prosa seperti cerpen, novel, atau esai, sehingga orang sering mengatakan bahwa kalimat-kalimatnya puitis (bersifat puisi).

Menurut Putu Arya Tirtawirya, puisi menjadi suatu pengungkapan secara implisit, samar, dengan makna yang tersirat, dimana kata-kata condong pada artinya yang konotatif.
Sajak memiliki makna lebih luas. Tidak sekadar hal yang tersirat, tetapi sudah menyangkut materi isi puisi, bahkan sampai pada efek yang ditimbulkan, seperti bunyi. Karenanya, ia terkadang juga dimaknai sebagai bunyi. Pada hakekatnya, ia mengundang kata berasosiasi. Tidak berinterpretasi, bertafsir-tafsir.

Bagi Subagio Sastrowardoyo, ia adalah apa yang lahir setelah ‘malam yang hamil oleh benihku. Adalah bayi yang dicampakkan ke lantai bumi. Sajak seperti anak haram tanpa ibu membawa dosa pertama di keningnya.
Sedangkan Subagio Sastrowardoyo berpendapat bahwa sajak berguna untuk mengingatkan kita pada kisah dan keabadian. Melupakan kepada pisau dan tali. Melupakan kepada bunuh diri.

Sajak bagi Chairil adalah alamat kemana ia menuju setelah lari dari gedong lebar halaman, dan ketika tersesat tak dapat jalan.

Sajak bagi Goenawan Mohamad adalah catatan kita bagi dingin yang tak tercatat pada termometer. Ketika kota basah, angin mengusir kita di sepanjang sungai, tapi kita tetap saja di sana. Mengamati, mencatat. Seakan gerimis raib dan kita saksikan cahaya berenang mempermainkan warna. Ia adalah ketika kita merasakan bahagia meski tak tahu kenapa.
Tema tentang sajak, baik tersurat guratnya atau hanya tersirat seratnya, atau bahkan cuma bisa kita tafsirkan saja salah satunya, hampir selalu ada ditulis oleh setiap penyair. Mungkin ini sebagai wujud kekariban. Atau persembahan untuk ia sendiri.
Ketika menggubah sajak, maka juga terkandung makna hidup yang dihayati oleh penyair. Ya, karena ia adalah kehidupan. Keduanya sangat dekat. Keduanya saling ada di dalam keduanya: ia ada dalam kehidupan dan kehidupan ada didalamnya. Ia adalah alat yang bisa sangat bermanfaat untuk merumuskan rumit dan samarnya kehidupan.

Sitok Srengenge, menerjemahkan apa peran sajak dan penyair bagi hidupnya dan kehidupan manusia. Sebenarnya selalu ada yang puisi dalam segala sesuatu yang bukan puisi. Dan peran luhur kepenyairan bisa dijalankan oleh siapa saja yang bukan penyair.
Sebaliknya penyair yang mengaku paling penyair pun bisa saja menempuh jalan lenceng: keluar dari jalur luhurnya, tak lagi menjadi dan menjadikan rahasia dalam kata, tak lagi menjelma dan menjelmakan tanda atas fana.